Asal-usul Nama Desa Jotangan dan Pesona Watu Sepur di Bayat Klaten

Budaya, Sejarah222 Views

infoklaten.com, KLATEN – Desa Jotangan di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, menyimpan kisah unik di balik nama wilayahnya. Desa yang terletak di lereng pegunungan ini konon berasal dari kata Jawa “gotang”, yang merujuk pada seorang pria yang hidup tanpa pasangan hingga akhir hayatnya.

Selain cerita turun-temurun tersebut, Jotangan juga memiliki potensi wisata dan geologi yang tak kalah menarik, salah satunya adalah Watu Sepur—kawasan batuan purba yang telah ditetapkan sebagai warisan geologi atau geoheritage oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Asal-usul Nama Desa Jotangan

Berdasarkan kisah yang berkembang di masyarakat, wilayah Jotangan pada masa lampau masih berupa daerah lereng gunung yang dipenuhi hutan atauoro-oro. Jumlah penduduk saat itu sangat sedikit dan wilayah tersebut belum memiliki nama desa.

Kemudian, datang seorang pria yang tinggal di daerah tersebut dan dikenal hidup bertahun-tahun tanpa memiliki pasangan. Pria itu akhirnya meninggal dan dimakamkan di area yang kini dikenal sebagai Desa Jotangan.

Dalam istilah Jawa, laki-laki yang belum memiliki istri atau pasangan disebut “gotang”, yang menggambarkan keadaan tanpa jodoh. Dari istilah itulah muncul nama desa yang dikenal hingga kini. Nama Jotangan dipakai karena dinilai lebih mudah diingat dan diucapkan masyarakat dibandingkan istilah aslinya.

Jotangan Berdiri Sejak 1913

Selain kisah asal nama, Desa Jotangan juga memiliki catatan sejarah pemerintahan yang panjang. Wilayah ini diketahui telah berdiri sebagai pemerintahan desa sejak tahun 1913.

Lokasinya yang berada di kaki bukit membuat Jotangan memiliki ciri khas berbeda dari daerah perkotaan. Wilayah ini masih memiliki hutan dan beberapa area bukit yang menjadi bagian dari pemandangan desa. Desa Jotangan memiliki kode wilayah Kemendagri 33.10.04.2016 dan kodepos 57462.

Watu Sepur, Batu Purba yang Menyerupai Kereta Api

Salah satu daya tarik utama Desa Jotangan adalah Watu Sepur, kawasan batuan purba yang terletak di Dukuh Bogoran, Desa Jotangan, Kecamatan Bayat.

Nama Watu Sepur berasal dari bahasa Jawa—“watu” berarti batu dan “sepur” berarti kereta api. Masyarakat menamainya demikian karena formasi batuan yang memanjang dan berderet menyerupai rangkaian gerbong kereta api.

Berdasarkan informasi dari pemerintah desa, panjang batuan ini sekitar 50 meter dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Sumber lain menyebutkan panjang barisan batu mencapai sekitar 120 meter. Perbedaan angka ini kemungkinan disebabkan oleh bagian batuan atau luas area yang diukur.

Sebelum menjadi tujuan wisata, kawasan Watu Sepur lebih sering dimanfaatkan warga untuk memelihara sapi dan kambing.

Pernah Ramai Dikunjungi, Kini Terbengkalai

Potensi batuan tua di Watu Sepur sempat mendorong para pemuda setempat untuk mengembangkan area tersebut menjadi destinasi pariwisata. Watu Sepur pernah menjadi tempat yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama sekitar tahun 2019.

Destinasi wisata ini diresmikan pada tahun 2018 oleh Bupati Klaten saat itu, Sri Mulyani. Sebuah prasasti peresmian masih terpampang di dekat akses masuk kawasan wisata tersebut.

Namun, kondisi Watu Sepur belakangan dilaporkan mangkrak, terutama sejak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Akses menuju batu purba berupa anak tangga di antara pepohonan jati dan mahoni. Di dekat akses masuk, terdapat bangunan rumah panggung yang tampak tidak terawat.

Masuk dalam Geoheritage Klaten

Selain sebagai tujuan wisata, Watu Sepur memiliki makna penting dalam bidang ilmu bumi. Kawasan ini ditetapkan sebagai salah satu dari 13 geosite atau situs warisan geologi (geoheritage) di Kabupaten Klaten oleh Kementerian ESDM.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 246.K/GL.01/MEM.G/2023 tentang Penetapan Warisan Geologi atau Geoheritage Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah. Dari 13 situs yang ditetapkan, 12 geosite berada di Kecamatan Bayat dan satu di Kecamatan Wedi.

Batu-batuan di wilayah Bayat diketahui berusia sekitar 98 juta tahun, menjadikannya salah satu kawasan dengan batuan tertua di Pulau Jawa, selain Karangsambung (Jateng) dan Ciletuh (Jabar).

Kawasan Bayat dikenal dengan keragaman batuannya yang berharga bagi studi geologi. Watu Sepur tidak hanya berpotensi sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai tempat pembelajaran dan pengembangan penelitian bagi para akademisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *