KLATEN, infoklaten.com — Pasangan suami istri Eddy Nugroho dan Ponirah dari Desa Gempol, Karanganom, Klaten, membuktikan sampah bisa menjadi jalan pengabdian. Lewat Omah Limbah, mereka mengelola 10–15 ton sampah per bulan dari 250 rumah tangga di Desa Gempol dan Desa Pondok.
Perjalanan itu berawal dari pengalaman pahit. Pada 2014, Eddy terkena serangan jantung hingga nyaris meninggal. Ia pun berikrar kepada Tuhan untuk mengabdikan sisa hidupnya demi membantu banyak orang.
Padahal, latar belakang Eddy jauh dari dunia sampah. Sejak 1997 ia bekerja di toko fesyen di Delanggu hingga menjadi manajer pemasaran, lalu pensiun pada 2020 setelah 23 tahun bekerja.
Baca juga:
- Ubah Sampah Dapur Jadi Kompos, Cara Mudah untuk Warga Klaten
- Pemkab Klaten Bantu Pasarkan Pupuk Organik TPS3R Jatipuro
- Bahaya Bakar Sampah saat Kemarau, Kebakaran Rumah di Cawas Klaten
Dari Hanggar Bambu ke TPS3R
Pensiun, Eddy mendatangi kantor Desa Gempol pada pertengahan 2020 dan menawarkan diri membantu warga. Perangkat desa lalu bercerita soal sampah yang menggunung di saluran-saluran air.
Dibantu istrinya, Eddy membersihkan saluran tempat pembuangan sampah liar, termasuk tumpukan popok sekali pakai. Total sampah yang terangkut mencapai lima pikap. Secara autodidak ia belajar pengelolaan sampah dan menemukan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN): sampah organik mencapai 50–70 persen dari total sampah.
Dari situ Eddy fokus mengolah sampah organik lewat budi daya maggot. Secara swadaya ia membangun hanggar bambu, cikal bakal Omah Limbah yang dimulai akhir 2020 dan efektif berjalan 2021. Pelanggan awal baru 38 rumah tangga.
Akhir 2022, Omah Limbah mendapat bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk membangun tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). Gedung 20 x 10 meter itu dilengkapi mesin pencacah, pengayak, dan kendaraan roda tiga, dengan pendampingan DLH Klaten dan KLHK.
Empat Jenis Sampah, 80 Persen Tuntas di Tempat
Di Omah Limbah, sampah dipilah empat jenis: organik (sisa makanan), anorganik (kertas, plastik), residu (popok sekali pakai, pembalut), serta bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti pecahan kaca.
Sampah organik difermentasi agar tak berbau, lalu dipakai sebagai pakan maggot. Barang anorganik yang masih layak pakai disalurkan ke yayasan yatim piatu, sedangkan yang bernilai jual dikerjasamakan dengan pengepul. Sekitar 80 persen sampah tuntas di Omah Limbah, sisanya diangkut ke TPA sebulan sekali.
Mereka tak menggelar forum edukasi. Sambil berkeliling mengambil sampah, mereka mengedukasi pelanggan agar memilah sampah sejak dari rumah. Kini sekitar 85 persen pelanggan sudah terbiasa memilah.
Swadaya, Tetap Bertahan
Sejak berdiri, operasional Omah Limbah swadaya. Retribusi tiap pelanggan Rp15.000, hasilnya dikembalikan untuk membiayai operasional dan membeli peralatan.
Hitung-hitungan bisnisnya jauh dari untung. Laba terbaik dalam setahun hanya Rp1 juta, dan mereka pernah merugi Rp1,5 juta dalam setahun. Eddy dan Ponirah bahkan tidak bergaji, dan Eddy kerap menombok biaya operasional.
Omah Limbah juga mengolah mi reject dan biskuit afkir menjadi pakan ternak, setelah dipastikan aman oleh dokter hewan. Kini hampir seluruh peternak di Gempol memakai pakan itu. Saat butuh tenaga tambahan, Eddy melibatkan sedikitnya tujuh warga berupah.
“Kalau menurut saya dari sisi internal pengelola, pasti ketekunan. Kedua disiplin, ketiga kreativitas. Kalau kami tidak mengelola maggot, kami sudah ngglundung sejak kemarin-kemarin. Kemudian terakhir itu harus tawakal,” kata Eddy.
Kisah Eddy dan Ponirah menjadi contoh ekonomi sirkular di tingkat desa. Saluran air Gempol kini lebih bersih, warga terbiasa memilah sampah, dan sampah yang dulu dibuang begitu saja kini punya nilai guna. Bagi warga Klaten, memilah sampah dari rumah adalah awal yang bisa ditiru.
Sumber: Solopos/Espos.id, Jumat 6 November 2026. Wawancara dilakukan Espos di Desa Gempol, Karanganom, Rabu 4 November 2026.
Info Belanja:
Website: https://www.klatenshop.com
Toko offline: Jl. Raya Solo-Jogja KM 11, Pengung, Klepu, Ceper, Klaten — lihat di Google Maps






