BGN Klaten pastikan dapur MBG yang di-suspend tak dapat insentif, kasus keracunan jadi PR besar

Politik333 Views

infoklaten.com – Kasus keracunan massal yang menimpa siswa dan guru di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berbuntut panjang.

Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut usai hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kandungan bakteri berbahaya pada air yang digunakan.

Diketahui, insiden keracunan massal itu terjadi pada Selasa (28/4/2026) dan sempat membuat warga geger.

Setelah dilakukan investigasi, ditemukan fakta bahwa air yang dipakai dalam operasional dapur mengandung bakteri Escherichia coli atau E coli.

Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama, memastikan pihaknya telah menyelesaikan proses investigasi terkait kasus tersebut.

“Untuk kasus Tulung sudah kami investigasi dan sudah selesai. SPPG di-suspend (diberhentikan operasional),” kata Yoga Angga Pratama, dikutip dari Kompas.com, Minggu (10/5/2026).

Menurut Yoga, penghentian sementara operasional dapur SPPG dilakukan sebagai langkah evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Dikarenakan hasil lab pascakeracunan terdapat hasil positif bakteri E coli maka perlu evaluasi pengecekan sampel air yang digunakan SPPG, pembenahan bangunan infrastruktur SPPG, dan evaluasi relawan SPPG,” tambahnya.

Tak hanya menghentikan operasional, BGN juga akan melakukan pembenahan pada sejumlah aspek penting, mulai dari kualitas air, kondisi bangunan, hingga sistem kerja relawan yang terlibat dalam layanan pemenuhan gizi tersebut.

Yoga turut menegaskan, selama masa penghentian operasional berlangsung, pihak mitra pengelola SPPG tidak akan menerima insentif.

“Mitra (SPPG) tidak mendapatkan insentif selama masa suspend,” tegasnya.

Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk evaluasi sekaligus upaya memastikan keamanan layanan makanan bagi para siswa dan masyarakat ke depannya.

Korban Keluhkan Muntah hingga Diare

Sebelum BGN menjatuhkan sanksi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten telah mengirimkan sampel makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta.

“Dari hasil pemeriksaan sampel yang kami kirim ke Balabkes Jogja, baik telur puyuh, galantin maupun kuah timlo semuanya positif Bacillus sp,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Klaten, Anggit Budiarto, Rabu (6/5/2026).

Anggit menambahkan bahwa Bacillus sp adalah bakteri yang mampu tumbuh pada bahan makanan dan membentuk spora.

Sebelumnya, peristiwa keracunan bermula pada Selasa (28/4/2026) ketika ratusan siswa dan guru SMPN 1 Tulung, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG.

SPPG yang menyediakan makanan langsung dihentikan operasionalnya selama tiga hari guna evaluasi.

Gejala yang muncul meliputi mual, muntah, sakit perut, pusing, serta diare. Korban kemudian memeriksakan diri ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.

”Yang mengeluhkan gejala keracunan itu ada 189 orang, terdiri dari siswa dan guru. Hingga hari ini, sebanyak sembilan orang dirawat di puskesmas dan dua orang dirawat di rumah sakit,” kata Anggit, dikutip dari Kompas.id, Rabu (29/4/2026).

Dinas Kesehatan menemukan bahwa korban keracunan mengonsumsi menu yang sama, yakni telur puyuh, galantin, dan sup timlo.

(infoklaten.com/Kompas.com/Yefta Christopherus Asia Sanjaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *