KLATEN – Jumat (2/10/2026) diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Tanggal ini dipilih karena pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Peringatan ini menjadi ajakan bagi masyarakat untuk mengenakan batik sekaligus menghargai para perajin, termasuk di Klaten yang memiliki sentra batik tulis, lurik hingga batik ciprat.
Perjalanan Batik Menuju Pengakuan UNESCO
Berdasarkan catatan NU Online dan detikJabar, berikut tahapan pengakuan batik:
- 4 September 2008: Pemerintah Indonesia mendaftarkan batik ke UNESCO.
- 9 Januari 2009: Pengajuan batik diterima secara resmi oleh UNESCO.
- 2 Oktober 2009: Batik Indonesia ditetapkan dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada sidang ke-4 Komite Antarpemerintah di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
- 17 November 2009: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.
Baca juga:
- Jelang Hari Batik Nasional, Menengok Desa Jarum Bayat: Sentra Batik Tulis Pewarna Alami
- Dari Cipratan Jadi Cuan, Batik Ciprat Karya Warga Disabilitas Kemudo Klaten
- Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026: Tema dan Sejarah Singkat
Bukan Sekadar Kain
Dalam deskripsinya, UNESCO menjelaskan teknik batik dibuat dengan menorehkan titik dan garis malam (lilin) panas pada kain untuk menahan pewarna, lalu dicelup dan dilorod berulang kali. Kain yang digunakan umumnya katun dan sutra.
Menurut UNESCO, batik menyertai kehidupan masyarakat Indonesia dari awal hingga akhir: bayi digendong dengan kain batik, dan jenazah ditutup kain batik. Ada pula batik khusus untuk pernikahan, kehamilan, pertunjukan wayang dan berbagai ritual. Motifnya memperlihatkan beragam pengaruh budaya, dari kaligrafi Arab hingga burung phoenix Tiongkok.
NU Online juga mencatat batik pada masa lalu banyak dikerjakan di lingkungan keraton, dan istilah “batik” disebut mulai muncul dalam catatan tertulis sekitar tahun 1705.
Batik di Klaten
Klaten punya beberapa sentra kain tradisional. Desa Jarum di Kecamatan Bayat dikenal sebagai sentra batik tulis dengan pewarna alami, Delanggu dikenal dengan tenun luriknya, sementara warga penyandang disabilitas di Kemudo, Prambanan, membuat batik ciprat.
Cara paling sederhana merayakan Hari Batik adalah mengenakan batik besok, sekaligus membeli langsung dari perajin lokal.
Sumber: UNESCO; NU Online; detikJabar. Foto: Ivuvisual / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).






