Payung Lukis Juwiring Klaten, dari Perlengkapan Upacara Keraton hingga Desa Wisata yang Berjuang Lestari

Budaya, Sejarah180 Views

KLATEN – Di ujung timur Kabupaten Klaten, Kecamatan Juwiring menyimpan kerajinan yang kini makin langka: payung lukis. Payung berangka bambu dengan kertas atau kain yang dilukis warna-warni ini dulu menjadi perlengkapan upacara, lalu bertransformasi menjadi benda hias dan cendera mata.

Menurut portal wisata Pemprov Jawa Tengah, ada tiga desa yang produktif menghasilkan payung lukis di Juwiring, yakni Tanjung, Kenaiban, dan Kwarasan.

Dari Payung Upacara ke Payung Hias

Kerajinan payung di wilayah ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Menurut profil desa wisata di Jadesta Kemenpar, di Desa Tanjung pernah berdiri industri payung tradisional yang dikenal sebagai payung muto. Payung kertas tradisional itu banyak dipakai untuk keperluan adat, termasuk prosesi pemakaman.

Dompet Dhuafa mencatat payung kertas buatan perajin setempat juga dipakai dalam upacara keagamaan dan kegiatan keraton di Solo dan Yogyakarta, termasuk saat Keraton Surakarta menggelar upacara Suronan dan Muludan.

Masa sulit datang ketika payung pabrikan membanjiri pasar pada 1980-an, lalu krisis moneter 1998 membuat pesanan merosot drastis. Banyak perajin beralih profesi. Perajin yang bertahan kemudian berinovasi membuat payung lukis dan payung hias untuk dekorasi, sehingga kerajinan ini kembali hidup.

Baca juga:

Proses yang Masih Serba Tradisional

Pembuatan payung lukis Juwiring hampir seluruhnya masih manual. Prosesnya antara lain:

  • Membuat bungkul, bagian kerangka yang menyatukan sanggan (penyangga) dan sodo (jeruji bambu), dibentuk dengan pahat.
  • Membuat sodo dari bambu dengan perhitungan yang tepat karena menjadi penopang utama payung.
  • Menyulam pola benang pada rangka, pekerjaan yang banyak digarap ibu-ibu perajin.
  • Melapisi dan melukis permukaan payung dengan corak warna-warni.

Kini Jadi Desa Wisata

Sejak 2021, wilayah perajin payung di Juwiring ditetapkan sebagai desa wisata lewat SK Bupati Klaten, menurut Jadesta. Pengunjung, terutama pelajar dan mahasiswa, bisa melihat langsung proses pembuatan, belajar melukis payung, hingga berfoto dengan latar payung warna-warni. Payung lukis Juwiring juga pernah dipasarkan ke mancanegara, antara lain Jepang, Suriname, dan Kamboja.

Tantangan terbesarnya kini adalah regenerasi. Jumlah perajin terus berkurang, termasuk setelah pandemi Covid-19, sementara generasi muda belum banyak yang meneruskan. Solopos juga memberitakan payung lukis Juwiring telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, bersama gerabah putaran miring Melikan.

Sumber: Visit Jawa Tengah (Pemprov Jateng), “Cantik! Seni Lukis Payung Juwiring”; Jadesta Kemenpar, profil Desa Wisata Payung Juwiring; Dompet Dhuafa, “Menilik Eksistensi Perajin Payung Lukis Desa Juwiring”; Solopos (judul berita penetapan WBTb).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *