Asal-usul nama desa Kemudo di Klaten: Konon diambil dari sosok bangsawan Solo, Nyai Sri Kemudo

Sejarah482 Views

Infoklaten.com – Desa Kemudo di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menyimpan kisah panjang yang berpadu antara sejarah, budaya, dan inovasi modern.

Tak hanya dikenal sebagai wilayah strategis di jalur Solo–Yogyakarta, desa ini juga berkembang menjadi salah satu desa yang aktif dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Lokasi Desa Kemudo ini berjarak 47 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 1,5 jam kendaraan bermotor.

Asal-usul Nama Desa dari Sosok Bangsawan

Nama Desa Kemudo diyakini berasal dari seorang bangsawan Kasunanan Surakarta Hadiningrat bernama Nyai Sri Kemudo.

Semasa hidupnya, beliau sangat dihormati masyarakat setempat.

Setelah wafat, Nyai Sri Kemudo dimakamkan di sebuah pedukuhan yang kini dikenal sebagai Dukuh Kemudo.

Hingga saat ini, makam tersebut masih terjaga dan dirawat oleh warga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang dipercaya sebagai pepunden desa.

Perubahan Sistem Pemerintahan Desa

Sejarah pemerintahan Desa Kemudo mengalami beberapa perubahan sejak masa kolonial Belanda.

Pada awalnya, desa ini menggunakan sistem Kebekelan, sebelum akhirnya diganti menjadi sistem Kelurahan pada tahun 1918.

Lebdupanukmo tercatat sebagai Kepala Desa pertama dengan pusat pemerintahan di Dukuh Kemudo.

Kemudian pada tahun 1936, terjadi penggabungan wilayah antara Desa Beji dan Desa Kemudo di bawah kebijakan kolonial Belanda.

Setelah penggabungan tersebut, Partipanukmo yang sebelumnya menjabat Kepala Desa Beji ditunjuk sebagai kepala desa wilayah baru, sementara kantor desa dipindahkan ke Dukuh Beji yang kala itu berada di rumah pribadi kepala desa.

Desa Strategis di Kawasan Prambanan

Desa Kemudo memiliki luas sekitar 270 km⊃2; dengan jumlah penduduk sekitar 5.219 jiwa.

Secara geografis, desa ini berbatasan dengan Desa Brajan di utara, Desa Sanggrahan dan Taji di selatan, Desa Bugisan di barat, serta Desa Geneng di timur.

Letaknya yang berada di kawasan Prambanan membuat Desa Kemudo memiliki posisi strategis, terutama karena dekat dengan jalur utama Solo–Yogyakarta.

Baca juga:

Inovasi Lingkungan dan Pengelolaan Limbah

Dalam perkembangan modern, Desa Kemudo dikenal sebagai desa yang aktif dalam pengelolaan limbah industri.

Desa ini bekerja sama dengan salah satu industri untuk mengolah limbah, sehingga dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Salah satu inovasi unggulan adalah pemanfaatan limbah kayu dan limbah kering seperti karton, plastik, pallet kayu, hingga jerigen.

Limbah tersebut kemudian diolah dan didistribusikan melalui BUMDes.

Program ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar desa.

Peran BUMDes Kemudo Makmur

BUMDes Kemudo Makmur menjadi motor penggerak ekonomi desa dengan tiga unit usaha utama, yaitu Unit Afval Industri, Pelayanan Umum, serta Perdagangan dan Wisata Desa.

BUMDes ini mengelola limbah kering yang berasal dari kawasan industri sekitar desa, kemudian menyalurkannya ke pengepul rosok di wilayah Kemudo. Selain itu, BUMDes juga memanfaatkan dana CSR untuk mengembangkan usaha.

Program pengelolaan limbah ini bahkan bersaing dengan sekitar 300 desa dan BUMDes di seluruh Indonesia, hingga akhirnya Desa Kemudo berhasil masuk 15 besar Desa BRILian Batch 2 tahun 2021.

Wisata di Dekat Kawasan Prambanan

Keunggulan lain Desa Kemudo adalah lokasinya yang dekat dengan berbagai destinasi wisata unggulan di Klaten dan sekitarnya.

Di antaranya adalah Candi Prambanan, Candi Plaosan, dan Candi Sojiwan yang berada di kawasan Desa Wisata Bugisan.

Selain wisata sejarah, terdapat juga wisata air seperti Umbul Ponggok, Umbul Pluneng, hingga Umbul Cokro yang terkenal dengan kejernihan airnya.

Ada pula Agrowisata Museum Gula Gondang Winangoen yang menyajikan edukasi sejarah industri gula.

Desa Kemudo sendiri juga mengembangkan konsep desa wisata dengan berbagai aktivitas seperti study desa, pelatihan UMKM, jelajah desa, hingga kegiatan edukatif lainnya.

(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *