KLATEN – Di tengah teriknya siang hari, segelas es dawet dengan cendol hijau kenyal, santan kelapa yang gurih, dan siraman gula merah pekat adalah pelepas dahaga yang sulit ditolak. Di Kabupaten Klaten, minuman ini punya nama tersendiri: Dawet Bayat, es tradisional legendaris yang berasal dari Kecamatan Bayat.
Berbeda dari dawet biasa, Dawet Bayat identik dengan penyajian dalam batok kelapa yang menambah aroma dan sensasi tradisional. Racikannya sederhana namun khas: cendol dari tepung beras yang kenyal, santan kelapa segar, gula merah atau gula jawa asli, serta es serut yang membuatnya dingin menyegarkan. Perpaduan manis dan gurih inilah yang membuat banyak perantau Klaten kangen dan selalu menyempatkan diri mampir saat pulang kampung.
Dawet Bayat dijajakan turun-temurun oleh para pedagang di wilayah Bayat dan sekitarnya, dari pedagang pikul dan sepeda keliling hingga warung-warung kaki lima yang kini tersebar di berbagai sudut Klaten. Eksistensinya menjadi bagian dari warisan kuliner Klaten yang bertahan di tengah gempuran minuman kekinian.
Baca juga:
- Thiwul, Jajanan Jadul dari Singkong yang Masih Bertahan di Pasar Tradisional Klaten
- Bakmi Miroso Klaten, Kuliner Legendaris dengan Sentuhan Chinese Food yang Kental Rasa Jawa
- 5 Oleh-Oleh Khas Klaten yang Wajib Dibawa Pulang, dari Tahu Bacem hingga Kain Lurik
Popularitas Dawet Bayat bahkan mendapat perhatian pemerintah daerah. Pada Minggu (4/10/2026), Bupati Klaten menghadiri Gebyar 6.000 Cup Dawet Gratis yang digelar Paguyuban Sedulur Dawet di Bayat. Dalam kesempatan tersebut, Bupati mendorong pelaku usaha dawet Bayat untuk terus berkembang sebagai penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus ikon kuliner daerah.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Klaten, mencicipi Dawet Bayat adalah agenda kuliner yang tak boleh dilewatkan. Harganya ramah di kantong, porsinya pas, dan cita rasanya autentik. Tak sedikit pula wisatawan yang membungkus gula merah cair dan cendol mentah untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Di tengah maraknya tren minuman modern, Dawet Bayat membuktikan bahwa kuliner tradisional bisa tetap relevan selama menjaga kualitas dan keasliannya. Selagi esnya masih dingin dan batok kelapanya masih menjadi ciri khas, legenda manis dari Bayat ini akan terus hidup di hati warga Klaten.
Sumber:
– https://prokopim.klaten.go.id/ (rilis kegiatan Pemkab Klaten)






