KLATEN — Petani kopi di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Klaten, mulai mengembangkan kopi arabika varietas Gayo 3 yang berasal dari Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Varietas unggul ini diharapkan menambah pilihan kopi berkualitas sekaligus mendongkrak hasil panen para petani di Kecamatan Kemalang.
Pengembangan diawali dengan penyaluran bibit kopi arabika Gayo 3 — yang juga dikenal sebagai Ateng Super — kepada empat kelompok petani dari Desa Panggang, Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo. Bibit diserahkan langsung oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi pada Kamis (8/10/2026), bersamaan dengan kegiatan simulasi evakuasi mandiri bencana erupsi Gunung Merapi. Jumlah biji kopi yang disalurkan disebut mencapai lebih dari 30.000 biji berkualitas grade A.
Hamenang berharap pengembangan varietas tersebut mampu meningkatkan kualitas dan produktivitas kopi Klaten sekaligus memperkuat daya saing petani di tengah pesatnya industri kopi. “Kami berharap kopi Klaten semakin maju dan kembali berjaya,” ujarnya.
Baca juga:
- Petani Klaten Perjuangkan Raperda Sistem Pertanian Organik, Bupati dan Ketua DPRD Kompak Dukung
- 7 Ide Usaha Rumahan Modal di Bawah Rp1 Juta yang Lagi Ramai di Klaten
- PIRT, Izin Edar Gratis untuk UMKM Kuliner Rumahan di Klaten: Ini Syarat dan Cara Mengurusnya
Gayo 3 dikenal sebagai varietas unggul dengan produktivitas panen yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata varietas lain. Varietas ini juga mampu beradaptasi di dataran tinggi, termasuk kawasan vulkanik seperti lereng Merapi. Secara resmi, Gayo 3 telah dilepas Kementerian Pertanian sebagai varietas unggul tanaman kopi arabika yang lazim dibudidayakan di dataran tinggi Gayo, meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Perwakilan petani kopi Desa Sidorejo, Sukiman, menyampaikan bibit yang diterima akan disemaikan dan dirawat sekitar tiga tahun sebelum diharapkan menghasilkan panen. Ia berharap hasil panen kelak melimpah sehingga mampu mengangkat produktivitas petani kopi di lereng Merapi. Selama ini petani di empat desa tersebut telah menanam sejumlah varietas kopi arabika seperti Lini S, Typica, dan Abissinia.
Pengembangan kopi Gayo 3 merupakan tindak lanjut kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Klaten dan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. Kesepakatan kedua daerah ditandatangani Hamenang bersama Bupati Gayo Lues Suhaidi pada Selasa (28/7/2026) di Alun-alun Klaten, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Klaten ke-222. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan pertanian padi, pengelolaan lahan persawahan, serta pengembangan perkebunan kopi.
Prospek pasar disebut masih terbuka lebar. Produksi kopi di Klaten sendiri belum mencukupi kebutuhan pasar, bahkan harga kopi di Klaten disebut lebih mahal dibandingkan di Gayo. Saat ini penanaman kopi di lereng Merapi masih dilakukan secara tumpang sari di sela-sela tanaman lain, padahal budi daya kopi pernah berkembang pesat di kawasan tersebut sebelum banyak tanaman ditebang ketika harga kopi jatuh.
Dengan penyaluran bibit ini, petani di Kemalang tidak hanya memperoleh bahan tanam baru, tetapi juga peluang memperkuat ekonomi keluarga dari komoditas yang kian diminati pasar. Keberhasilannya akan terlihat setelah masa tanam sekitar tiga tahun, ketika tanaman mulai berproduksi.
Sumber: Mercuswara, Solopos/Espos.id






