KLATEN – Pembudi daya ikan di Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten, mengeluhkan ikan-ikan mereka mati dalam jumlah besar. Dalam dua pekan terakhir, sekitar 7 kuintal atau 700 kilogram ikan nila dan bawal mati. Mereka menduga air irigasi yang masuk ke kolam tercemar limbah.
Menurut laporan Espos.id, Selasa (22/9/2026), kematian ikan terjadi di sekitar 28 dari 54 kolam milik anggota Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Krida Mina yang beranggotakan 27 orang. Setiap pagi, pembudi daya mendapati 30–40 kilogram ikan mati. Di sejumlah kolam, ikan yang tersisa hanya sekitar 30 persen.
Air Berubah Putih Kehitaman pada Malam Hari
Para pembudi daya menyebut air saluran irigasi kerap berubah warna menjadi putih kehitaman, terutama sekitar pukul 19.00 hingga 01.00 WIB. Kondisi ini dinilai makin parah saat kemarau karena debit air menurun. Mereka menduga limbah berasal dari sejumlah tempat usaha di wilayah lain yang dialirkan ke saluran tersebut. Radar Solo melaporkan, pembudi daya menduga limbah itu berasal dari industri rumahan.
Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah, belum termasuk biaya pakan sekitar Rp400.000 per sak. Menurut pembudi daya, persoalan ini sudah pernah dikomunikasikan ke berbagai tingkatan, bahkan sejak 2019. “Sudah pernah kami komunikasikan. Sampai kecamatan, sampai mendatangkan instansi-instansi dari gubernur,” kata salah satu pembudi daya kepada Espos.
Baca juga:
- Kemarau, BPBD Klaten Salurkan 4,6 Juta Liter Air Bersih ke 5 Kecamatan, Kemalang Terbanyak
- Karhutla Klaten Hanguskan 7,7 Hektare Lahan di Empat Desa, Tak Ada Korban Jiwa
- Kopi Sapuangin Klaten Diburu, Permintaan 10 Ton tapi Produksi Baru 3 Ton
Sampel Air Sedang Diuji
Sampel air kolam dan saluran sudah diambil untuk diuji di laboratorium, dan hasilnya belum keluar. Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, Much. Nasir, menyatakan akan mengecek aduan pembudi daya dan hasil uji sampel air tersebut.
Para pembudi daya berharap pemerintah mengambil langkah tegas dan memberi solusi teknis pengolahan limbah, tanpa mematikan usaha pihak lain. “Harapannya ada solusi yang terbaik. Tidak ada yang dirugikan satu sama lain. Ayo usaha bareng-bareng, jaga alam bareng-bareng,” ujar Tarjo (51), anggota Pokdakan Krida Mina.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pihak yang dinyatakan sebagai sumber pencemaran. InfoKlaten.com akan memperbarui informasi setelah hasil uji laboratorium diumumkan.






