infoklaten.com – Di Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, warung Sego Yuyu Pak Jenggot menjadi salah satu destinasi kuliner unik yang terkenal dengan menu yuyu, atau kepiting air tawar.
Namun, di balik kelezatan hidangan ini, tersimpan kisah tradisi dan kesabaran dalam mencari yuyu yang tetap dipertahankan oleh pemiliknya, Katarina Puji Astuti (55).
Rina, sapaan akrab pemilik warung, menceritakan proses pencarian yuyu yang masih dilakukan secara tradisional.
“Kalau Yuyu itu carinya di sendang, disini kan ada sendang putri, sendang kakung. Lah itu Yuyu kan kalau keluarnya malam. Jadi Bapak carinya ya di setiap malam,” ujarnya.
Dulu, suaminya menggunakan alat setrum untuk menangkap yuyu, namun kini harus mengikuti aturan yang berlaku.
“Zaman dulu Bapak bawanya setrum. Karena sekarang ada aturannya enggak boleh, Bapak sekarang pakai jaring,” paparnya.
“Pakai jaring, nanti terus diserok gitu,” tambahnya.
Tantangan Mengolah Yuyu
Selain jaring, sang suami juga membawa alat tang untuk membantu membersihkan yuyu sebelum disajikan di warung.
Jumlah tangkapan setiap malam tidak pasti, namun Rina menyiapkan yuyu sebanyak satu kotak pada hari biasa dan dua kotak saat akhir pekan atau hari libur.
Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri karena ketersediaan yuyu sangat bergantung pada air.
“Kalau saya repotnya kalau apa mah kemarau. Kalau yuyu itu kan harus ada air, kalau enggak ada air kan enggak ada yuyu,” ucapnya.
Baca juga:
- Kisah pasutri di Klaten rintis warung sego yuyu sejak 29 tahun lalu
- 5 rekomendasi kuliner khas Klaten yang bikin nagih, salah satunya sayang untuk dilewatkan
- Bupati Klaten Rekomendasikan Soto Kambing Unik di Prambanan, Rasanya Perpaduan Soto dan Gulai
“Lah, di situlah kita kendalanya kalau kemarau enggak ada yuyu,” imbuhnya.
Meski begitu, Rina dan suami tetap berusaha menyediakan menu yuyu walau jumlahnya terbatas.
“Karena jualnya nasi yuyu, enggak tahu caranya gimana dicarikan. Walaupun nanti satu malam dapat 10 atau 20 ekor, yang penting kita ada yuyu,” kata Rina.
Konsumen dari Luar Kota
Menariknya, popularitas warung ini menjangkau pembeli dari luar kota.
“Itu paling jauh Jawa Barat, Bandung itu dulu pernah pesan yuyu tapi digoreng. Itu (pesan) 5 kilo dari sini ke Bandung,” ujarnya.
Namun, untuk pemesanan, tidak bisa dilakukan secara mendadak.
“Kalau mau pesan Yuyu itu kan enggak langsung satu hari, itu harus ready dulu,” ucapnya.
Saat ini, Rina dan suami lebih mengutamakan pembeli yang datang langsung ke warung agar dapat menikmati yuyu segar.
(*)






