KLATEN — Di balik kemegahan Candi Prambanan yang mendunia, kawasan Prambanan di Kabupaten Klaten menyimpan satu lagi mahakarya peradaban Jawa kuno: Candi Sewu. Kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah Candi Borobudur ini berdiri di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hanya sekitar 800 meter di sebelah utara Candi Prambanan.
Meski bernama “Sewu” yang berarti seribu dalam bahasa Jawa, jumlah bangunan candi di kompleks ini sebenarnya 249 bangunan. Kompleks tersebut terdiri atas satu candi utama setinggi sekitar 30 meter, delapan candi apit, dan 240 candi perwara yang tersusun dalam empat deret konsentris. Tata letaknya menyerupai mandala, simbol alam semesta dalam ajaran Buddha Mahayana.
Dibangun pada abad ke-8 Masehi, nama asli candi ini adalah Prasada Vajrasana Manjusrigrha yang berarti “Rumah Manjusri”. Berdasarkan Prasasti Kelurak (782 M) dan Prasasti Manjusrigrha (792 M), candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Panangkaran dan disempurnakan oleh Rakai Pikatan. Menariknya, Rakai Pikatan yang beragama Hindu tetap merawat candi bercorak Buddha ini — bukti nyata bahwa toleransi beragama sudah hidup di tanah Jawa lebih dari 1.200 tahun lalu.
Baca juga:
- Candi Bubrah, Candi Buddha Abad ke-9 di Prambanan Klaten yang Bangkit dari Reruntuhan
- Candi Plaosan, Candi Kembar di Klaten yang Jadi Simbol Toleransi Hindu-Buddha sejak Abad ke-9
- Museum Daerah Klaten di Kompleks Monumen Juang 45, Wisata Edukasi Gratis di Jantung Kota
Nama Sewu sendiri tak lepas dari legenda Roro Jonggrang yang melegenda. Konon, Bandung Bondowoso diminta membangun seribu candi dalam satu malam sebagai syarat meminang Roro Jonggrang. Gugusan candi inilah yang dipercaya sebagai hasil karya Bondowoso sebelum usahanya digagalkan oleh tipu muslihat Roro Jonggrang.
Di setiap pintu masuk candi, pengunjung disambut sepasang arca Dwarapala setinggi 2,3 meter — patung penjaga raksasa dengan pahatan yang sangat detail. Berbeda dengan Candi Prambanan yang berpuncak runcing (ratna), puncak candi-candi Sewu berbentuk stupa atau genta, ciri khas bangunan suci Buddha. Pintu masuk utama candi menghadap ke arah timur.
Candi Sewu pernah mengalami kerusakan serius akibat gempa bumi besar yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada Mei 2006. Candi induk mengalami retakan struktural dengan batuan berserakan. Setelah bertahun-tahun dipugar secara bertahap, kini kompleks ini telah kembali dibuka untuk umum dan ruangan dalam candi induk sudah dapat dikunjungi kembali oleh wisatawan.
Bersama Candi Prambanan, Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Asu, kompleks Candi Sewu telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia dalam kawasan Prambanan Temple Compounds. Tiket masuk terintegrasi dengan kawasan Taman Wisata Candi Prambanan — menurut data Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten, retribusi tiket masuk sebesar Rp40.000. Kompleks candi buka setiap hari pukul 06.00–17.00 WIB; waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari atau menjelang sore agar bisa menikmati suasana yang lebih tenang.
Sumber: wisata.klaten.go.id, travels.id






