KLATEN – Di antara jejeran candi kuno di kawasan Prambanan, Candi Sojiwan menyimpan keunikan yang tidak dimiliki candi lain. Candi Buddha peninggalan abad ke-9 di Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, ini memiliki deretan relief dongeng binatang di bagian kaki candinya — sekitar dua puluh panel relief fabel yang menceritakan kisah-kisah hewan sarat pesan moral.
Relief-relief hewan itulah yang menjadi ciri khas utama Candi Sojiwan. Panel-panel ukiran batu di kaki candi menggambarkan aneka satwa dan kisah Jataka, yaitu cerita-cerita Buddhis yang banyak menggunakan tokoh binatang sebagai pembawa nasihat. Tidak banyak candi di Jawa yang reliefnya didominasi cerita hewan seperti ini, sehingga Sojiwan kerap disebut sebagai “candi dongeng”.
Selain reliefnya yang unik, Sojiwan juga menarik karena kisah pemugarannya. Candi ini sempat terkubur reruntuhan selama ratusan tahun hingga akhirnya dipugar secara bertahap oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya dan kembali berdiri utuh pada 2011. Sebagai candi Buddha, Sojiwan memiliki bilik candi, ornamen stupa, serta tata ruang yang mencerminkan ajaran Buddha pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Para pengelola dan pemandu wisata setempat biasanya menjelaskan makna di balik tiap relief kepada pengunjung. Setiap panel bukan sekadar hiasan, melainkan media dakwah dan pendidikan zaman dahulu — nilai kejujuran, kesetiaan, hingga bahaya keserakahan disampaikan lewat perilaku para hewan dalam cerita. Inilah yang membuat Sojiwan istimewa: candi ini seperti perpustakaan dongeng yang diukir di atas batu.
Baca juga:
- Candi Sewu, Kompleks Candi Buddha Terbesar Kedua di Indonesia yang Berada di Prambanan Klaten
- Candi Bubrah, Candi Buddha Abad ke-9 di Prambanan Klaten yang Bangkit dari Reruntuhan
- Candi Plaosan, Candi Kembar di Klaten yang Jadi Simbol Toleransi Hindu-Buddha sejak Abad ke-9
Bagi wisatawan, Candi Sojiwan menawarkan pengalaman yang berbeda dari candi-candi tetangganya. Lokasinya berada di kawasan wisata candi Prambanan sehingga mudah dijangkau, suasananya relatif tenang, dan relief-relief hewannya sangat cocok untuk wisata edukasi — anak-anak bisa diajak berkeliling sambil mendengar dongeng dari ukiran batu berusia lebih dari seribu tahun.
Candi ini juga menjadi spot fotografi yang menarik dengan latar arsitektur batu kuno yang khas, terutama pada pagi dan sore hari saat cahaya matahari lembut. Pengunjung diimbau menjaga kelestarian candi dengan tidak memanjat, mencoret, atau merusak relief maupun struktur bangunan.
Sumber: Wikipedia “Candi Sojiwan”; turisian.com






