INFOKLATEN.COM – Di tengah permukiman Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten, berdiri Candi Sojiwan. Candi Buddha ini tidak sepopuler tetangganya, Candi Prambanan, tetapi punya keunikan: kaki candinya dihiasi relief cerita fabel, yaitu kisah binatang yang sarat pesan moral.
Dibangun abad ke-9
Candi Sojiwan diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi. Sejumlah rujukan menyebut rentang 842–850 Masehi, sedangkan laman Visit Jawa Tengah milik Pemprov Jateng menulis abad ke-9–10. Candi ini berada di kawasan yang dikenal dengan banyak candi Hindu dan Buddha yang berdiri berdekatan.
Nama Sojiwan kerap dikaitkan dengan Prasasti Rukam (907 M). Prasasti itu menyebut tokoh bernama Rakryan Sanjiwana Nini Haji yang memerintahkan pemulihan sebuah desa setelah rusak akibat letusan gunung. Arkeolog Richadiana Kartakusuma berpendapat tokoh itu adalah Ratu Pramodhawardhani, dan Sojiwan merupakan candi pendharmaannya. Pendapat ini adalah tafsir ahli, bukan kesimpulan yang sudah pasti.
Baca juga:
- Mengapa Banyak Candi Ditemukan di Klaten, Ini Asal Usulnya
- Sendratari Manusuk Sima I Upit Tuai Pujian DPRD, Kisah Desa Tertua Indonesia Diangkat
- Mengungkap Sejarah Desa Kebon Klaten: Dari Lahan Perkebunan Keraton hingga Sentra Batik Alami
Relief fabel Pancatantra dan Jataka
Ciri paling khas Sojiwan adalah sekitar 20 panel relief di kaki candi, dan 19 di antaranya masih bertahan. Relief itu mengisahkan cerita Pancatantra atau Jataka dari India, dengan tokoh binatang dan makhluk kahyangan seperti Kinnara. Pada masanya, relief ini diyakini menjadi sarana pendidikan moral bagi masyarakat.
Bangunan utama candi terbuat dari batu andesit dan terdiri atas kaki, tubuh, dan atap bertingkat yang dipuncaki stupa. Di sisi tangga masih terlihat sisa arca makara.
Ditemukan 1813, dipugar hingga 2011
Keberadaan Candi Sojiwan dilaporkan Kolonel Colin Mackenzie pada 1813. Kondisinya yang runtuh membuat candi ini harus melewati pemugaran panjang, dan pemugaran besar baru rampung pada 2011.
Kini Candi Sojiwan bisa dikunjungi sebagai wisata sejarah yang lebih tenang, sekitar Jalan Banjarsari, Kwaron, Kebon Dalem Kidul, Prambanan. Pengunjung disarankan tidak memanjat bangunan candi, menyentuh relief seperlunya saja, dan mematuhi aturan petugas cagar budaya.
Sumber: Wikipedia – Candi Sojiwan; Visit Jawa Tengah (Pemprov Jateng); Solopos; Tempo.






