Penemuan Baru dalam Kasus Keracunan Massal di Tulung
Kasus dugaan keracunan massal yang terjadi di Klaten, Jawa Tengah, kini menemukan fakta baru setelah hasil uji laboratorium mengungkap adanya kontaminasi bakteri pada makanan yang disajikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klaten mengungkapkan bahwa tiga sampel makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 (SMPN 1) Tulung positif mengandung bakteri Bacillus sp.
Hasil Laboratorium: Tiga Sampel Positif Bacillus sp
Hasil pemeriksaan dari Balai Laboratorium Kesehatan (Balapkes) Yogyakarta menunjukkan bahwa tiga jenis makanan yang diuji yaitu telur puyuh, galantin, dan kuah timlo, dinyatakan positif mengandung bakteri Bacillus sp. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinkes Klaten, Anggit Budiarto, yang menyebutkan bahwa ketiga sampel tersebut ditemukan mengandung bakteri tersebut.
“Hasil dari Balapkes Yogyakarta atas tiga sampel yang kita kirim yaitu telur puyuh, galantin dan kuah timlo. Itu ketiga-tiganya positif mengandung bakteri Bacillus sp,” ujarnya.
Bacillus sp: Bakteri yang Tahan Panas
Anggit menjelaskan bahwa Bacillus sp merupakan bakteri yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrem, termasuk saat makanan dipanaskan. Bakteri ini dapat membentuk spora, sehingga tidak mudah mati meski dalam proses pemanasan. Hal ini menjadi perhatian serius karena potensi bahayanya tetap ada meskipun makanan telah dimasak.
Baca juga:
- Usai Kasus Keracunan MBG di Ceper, Bupati Klaten Libatkan Forkopimcam Awasi Dapur SPPG
- BGN tutup SPPG Klaten buntut keracunan massal di SMPN 1 Tulung
- Bupati Hamenang minta siswa di Klaten cicipi dulu makanan MBG, jangan langsung ditelan
“Sehingga kami harap, di dalam proses-proses pemilihan bahan serta penyimpanan itu sesuai dengan standar yang ada,” tambahnya.
Kronologi Dugaan Keracunan Massal
Kasus ini bermula saat siswa dan guru mengonsumsi makanan dari program MBG yang dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ayur Vera di Desa Sorogaten. Setelah mengonsumsi makanan tersebut, ratusan siswa dan guru mengalami gejala dugaan keracunan. Kasus paling banyak terjadi di SMPN 1 Tulung.
Dinkes Klaten mencatat total 584 orang terdampak dalam kejadian ini. Mayoritas dari mereka menjalani rawat jalan, sementara 17 orang harus mendapatkan perawatan inap.
Beberapa gejala yang dilaporkan antara lain mual, muntah, demam, dan sakit perut. Para korban sebagian besar mengalami gejala ringan dan sembuh dalam waktu singkat. Namun, kasus ini tetap menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang untuk memastikan keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Langkah Pencegahan dan Edukasi
Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, Dinkes Klaten mengimbau agar seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan, terutama program MBG, mematuhi standar keamanan pangan. Proses pemilihan bahan baku, pengolahan, dan penyimpanan harus dilakukan secara higienis dan sesuai protokol kesehatan.
Selain itu, pihak sekolah dan SPPG juga diminta untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan makanan. Edukasi kepada siswa dan staf tentang cara mengenali tanda-tanda keracunan serta tindakan darurat juga menjadi bagian dari langkah pencegahan.
Kasus ini menjadi pengingat penting akan perlunya pengawasan ketat terhadap program makanan yang disajikan di lingkungan pendidikan, terutama dalam rangka melindungi kesehatan para peserta didik.






