Air Rawa Jombor Klaten Menyusut Drastis, Stok Masih Aman untuk Irigasi Pertanian

Ekonomi83 Views

Klaten — Debit air Waduk Rawa Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, menurun drastis setelah wilayah tersebut tidak diguyur hujan selama berbulan-bulan. Meski menyusut signifikan, ketersediaan air di waduk seluas sekitar 178 hektare itu disebut masih mencukupi untuk kebutuhan irigasi pertanian di sejumlah desa hingga masa panen.

Foto: Kondisi tepi sisi barat Waduk Rawa Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, yang surut saat kemarau, Sabtu (17/10/2026). (Espos/Taufiq Sidik Prakoso)

Berdasarkan pantauan Espos pada Sabtu (17/10/2026), garis air kian menjauh dari tepian waduk. Tepian yang biasanya tergenang kini mulai terlihat — sebagian ditumbuhi rerumputan, sebagian lagi mengering hingga pecah-pecah. Bambu-bambu yang menancap di area waduk pun terlihat menonjol seiring surutnya air.

Baca juga:

Aktivitas Nelayan dan Wisata Tetap Berjalan

Sejumlah aktivitas warga di kawasan waduk masih berjalan meski debit menurun. Para nelayan tetap mencari ikan, budi daya ikan menggunakan karamba di sisi tengah waduk juga masih berjalan, begitu pula perahu wisata yang melayani wisatawan di area yang masih cukup tergenang air.

Berkurangnya debit air Rawa Jombor terjadi seiring kemarau panjang tanpa hujan selama berbulan-bulan. Selain itu, air waduk secara berkala dialirkan untuk irigasi pertanian sesuai fungsi utamanya.

Stok Air Aman hingga Panen MT 3

Koordinator Operasional dan Pemeliharaan Bendungan Waduk Rawa Jombor, Nandung Setiawan, menjelaskan fungsi inti waduk adalah mendukung irigasi terutama pada masa tanam (MT) 2 dan MT 3. Pada MT 3, air waduk dialirkan secara berkala ke saluran irigasi mulai Agustus.

Nandung menyebut luas waduk Rawa Jombor sekitar 178 hektare dengan daya tampung normal sekitar 3.200 meter kubik. Saat ini, kapasitas air yang masih tersedia sekitar 750 meter kubik.

Meski berkurang, ketersediaan air disebut masih mencukupi untuk irigasi pertanian di wilayah sekitar hingga masa panen MT 3. Area pertanian yang mendapatkan suplai irigasi dari Rawa Jombor terutama di lima desa di Kecamatan Bayat, yakni Jotangan, Kebon, Gununggajah, Talang, serta Tawangrejo.

Terkait aktivitas yang ada di waduk, Nandung memastikan kegiatan budi daya ikan menggunakan karamba masih aman karena zona karamba berada di sisi tengah waduk yang perairannya masih cukup dalam. Sementara itu, aktivitas perahu wisata sebagian masih berjalan.

Waspada Palung Sedalam 5 Meter

Nandung mengingatkan masyarakat agar waspada karena kedalaman Waduk Rawa Jombor tidak seragam. Ada beberapa bagian dasar waduk yang berbentuk palung dengan kedalaman 4 hingga 5 meter.

“Kalau memang yang tidak terbiasa ke Rawa Jombor, itu bahaya [ketika berjalan di area perairan]. Ada yang berjalan ketinggian air sekitar lutut, tetapi tiba-tiba tenggelam karena terperosok ke area yang kedalamannya sampai 5 meter,” jelas Nandung saat dihubungi Espos, Sabtu (17/10/2026).

Salah satu warga Dukuh Drajat, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Ruwadi (59), mengatakan penurunan debit air Rawa Jombor terjadi sejak Agustus lalu. Ia memperkirakan penurunan tinggi muka air waduk pada kemarau ini mencapai sekitar 2,5 meter. Meski ada penurunan cukup signifikan, menurutnya area waduk terutama di sisi tengah masih dalam. “Di tengah itu masih ada yang ke dalamannya sampai 2 meter,” kata warga yang sehari-hari menjadi nelayan di waduk tersebut.

Sumber: Solopos (solopos.espos.id), 18 Oktober 2026.


Info Belanja

Website: https://www.klatenshop.com
Toko offline: Jl. Raya Solo-Jogja KM 11, Pengung, Klepu, Ceper, Klaten — lihat di Google Maps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *