Daun Kelor, Sayur Bening Pekarangan Klaten yang Kaya Gizi

Kesehatan94 Views

KLATEN, infoklaten.com — Daun kelor (Moringa oleifera) mungkin sudah tidak asing bagi warga Klaten. Tanaman ini tumbuh subur di pekarangan rumah dan kerap dimasak sebagai sayur bening. Di balik bentuknya yang sederhana, daun kelor menyimpan kandungan gizi yang begitu padat hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjulukinya miracle tree atau pohon ajaib.

Kandungan Gizi Daun Kelor

Menurut Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI, setiap 100 gram daun kelor segar mengandung 5,1 gram protein, 1,6 gram lemak, dan 8,2 gram serat. Daun kelor juga mengandung kalsium sekitar 440 miligram dan fosfor 70 miligram per 100 gram, serta vitamin A, vitamin C, zat besi, kalium, magnesium, dan seng.

Sejumlah literatur menyebut kandungan vitamin C kelor tujuh kali lipat jeruk, kalsiumnya empat kali lipat susu, vitamin A empat kali lipat wortel, kalium tiga kali lipat pisang, dan zat besinya 25 kali lipat bayam. Perbandingan ini membuat kelor sering disebut sebagai salah satu tanaman pangan paling bergizi yang mudah tumbuh di pekarangan rumah.

Baca juga:

Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan

Manfaat daun kelor untuk kesehatan sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Kandungan gizinya yang padat berpotensi membantu menjaga daya tahan tubuh, mendukung kesehatan tulang dan mata, serta membantu memenuhi kebutuhan gizi harian, terutama bagi ibu dan anak. Vitamin A dalam kelor berperan untuk kesehatan mata, kalsiumnya mendukung tulang yang kuat, sementara zat besi dan vitamin C membantu tubuh melawan kelelahan.

Sejumlah penelitian juga mengkaji potensi kelor untuk membantu melancarkan produksi ASI, mengatasi anemia, dan mengontrol kadar gula darah. Namun sebagian besar khasiat tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan pada manusia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahkan pernah menyebut kelor sebagai tanaman herbal khas Indonesia yang layak disejajarkan dengan ginseng dari Korea.

Cara Mengolah Daun Kelor di Dapur Klaten

Di dapur warga Klaten, daun kelor paling umum diolah menjadi sayur bening bersama jagung manis dan labu siam. Daunnya juga bisa diseduh sebagai teh atau dikeringkan lalu ditumbuk menjadi bubuk untuk campuran makanan. Dosis harian yang dianjurkan sekitar 70 gram daun kelor segar atau 11 sendok teh bubuk kelor, dan konsumsi sebaiknya tidak lebih dari enam bulan berturut-turut.

Meski kaya gizi, daun kelor bukanlah pengganti obat. Ibu hamil, ibu menyusui, serta pengguna obat diabetes atau tiroid sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi kelor secara rutin, karena ada risiko interaksi dengan obat. Daun kelor juga sebaiknya dicuci bersih dan dimasak hingga matang sebelum disantap.

Bagi warga Klaten, kelor adalah contoh pangan lokal yang murah dan mudah didapat. Tanaman ini tahan tumbuh di lahan kering, tidak butuh perawatan rumit, dan daunnya bisa dipetik kapan saja. Menanam satu-dua pohon kelor di pekarangan bisa menjadi lumbung gizi keluarga, sekaligus pengingat bahwa makanan sehat tidak selalu harus mahal.

Sumber: Kementerian Kesehatan RI (Tabel Komposisi Pangan Indonesia); Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan; Puskesmas Sela, Dinas Kesehatan Lombok Barat; Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Diakses Senin, 9 November 2026.

Info Belanja

Website: https://www.klatenshop.com
Toko offline: Jl. Raya Solo-Jogja KM 11, Pengung, Klepu, Ceper, Klaten — lihat di Google Maps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *