KLATEN – Kopi yang dibudidayakan petani di lereng Gunung Merapi wilayah Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, sedang laris manis. Kopi Sapuangin Klaten bahkan diburu pembeli dari berbagai daerah hingga mereka rela antre menunggu berbulan-bulan demi mendapatkan biji kopi berkualitas dari para petani di sana.
Salah satu pegiat kopi Sapuangin, Srijono, mengungkapkan permintaan pasar untuk produk kopi asal Tegalmulyo sangat tinggi. Pada 2025, kelompok petani kopi Sapuangin memproses sekitar tiga ton biji kopi, sementara permintaan pasar mencapai sepuluh ton. Bahkan, kata dia, permintaan yang bisa dipenuhi petani belum mencapai sepuluh persen dari total kebutuhan pembeli.
“Untuk permintaan yang bisa kami penuhi itu sepuluh persen saja belum mencapai,” ujar Srijono. Alhasil, pengelola kopi Sapuangin kewalahan memenuhi permintaan pasar. Untungnya pembeli menunggu. Ada yang inden hingga enam bulan untuk mendapatkan kopi berkualitas dari para petani di Tegalmulyo.
Baca juga:
- Panduan KUR 2026 untuk UMKM Klaten: Syarat, Plafon, dan Cara Daftar
- 5 Ide Usaha Sampingan Klaten Modal di Bawah Rp5 Juta
- Harga Sembako Pekan Ini: Cabai Rawit Turun ke Rp100.800/kg
Kebangkitan Kopi Lereng Merapi Klaten
Sebenarnya penanaman kopi di lereng Merapi wilayah Tegalmulyo sudah ada sejak era kolonial. Namun petani menebang tanaman kopi besar-besaran pada 1990-an karena harga kopi saat itu jatuh di pasaran. Petani baru mulai bangkit lagi menanam kopi sekitar 2017.
Dari catatan Espos, petani di kawasan Sapuangin Tegalmulyo kembali menanam kopi pada 2017. Ada penanaman bibit kopi Arabika varietas Yellow Bourbon dari Classic Bean Bandung. Sejak saat itu, para pemuda Sapuangin belajar tentang cara menanam kopi hingga pengolahannya.
Beberapa tahun berikutnya, mereka mulai menuai hasil. Saat ini lebih dari dua ribu tanaman kopi dibudidayakan petani di wilayah Tegalmulyo, ada yang dikelola melalui kelompok dan ada yang dikelola mandiri. Kunci keberhasilan mereka adalah penguasaan teknik budi daya dan pengolahan pascapanen yang tepat.
Menurut Srijono, alasan kopi Tegalmulyo terutama Kopi Sapuangin banyak diburu pembeli tidak hanya soal pengolahan pascapanen yang tepat, tetapi juga varietasnya yang masih jarang. “Varietas Yellow Bourbon belum banyak,” katanya.
Peluang Ekonomi Petani Klaten
Bangkitnya kopi Sapuangin menjadi kabar baik bagi ekonomi warga lereng Merapi. Dengan harga yang dihargai tinggi di pasaran, budi daya kopi menjadi alternatif penghidupan yang menjanjikan bagi petani dan pemuda di Kemalang.
Srijono berharap perkembangan kopi di wilayah Tegalmulyo terus menggeliat. Ia pun menyambut positif kerja sama antara Pemkab Klaten dengan Kabupaten Gayo Lues, Aceh, yang salah satunya kerja sama di sektor pertanian kopi. “Semoga saja dengan kerja sama ini perkopian di Klaten semakin maju serta petani semakin semangat,” katanya.
Kawasan Sapuangin pun kini mulai dikenal lebih luas. Selain kebun kopi, kawasan di lereng Merapi ini juga mulai dilirik untuk wisata. Bagi warga Klaten, kopi Sapuangin bisa menjadi kebanggaan baru sekaligus pengingat bahwa produk unggulan daerah bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
Sumber: Espos.id/Solopos, artikel “Laris Manis! Pembeli Kopi Sapuangin Tegalmulyo Klaten Sampai Harus Inden 6 Bulan” (10 Agustus 2026)
Info belanja:
Website: https://www.klatenshop.com
Toko offline: Jl. Raya Solo-Jogja KM 11, Pengung, Klepu, Ceper, Klaten — lihat di Google Maps






