Penyebab Keracunan MBG Klaten Terungkap, Bakteri Bacillus Sp. Ditemukan di Telur Puyuh dan Kuah Timlo

Berita, Nasional86 Views

Penyebab Keracunan Massal di Klaten Terungkap

Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Klaten akhirnya menemukan titik terang. Dinas Kesehatan memastikan bahwa penyebabnya berasal dari kontaminasi bakteri. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa sampel makanan yang dikonsumsi siswa positif mengandung bakteri berbahaya.

“Dari hasil pemeriksaan sampel yang kami kirim ke Balkes Yogyakarta, baik telur puyuh, galantin, maupun kuah timlo, semuanya positif Bacillus sp,” ujar Anggit. Temuan ini sekaligus mengakhiri spekulasi sebelumnya soal penyebab keracunan. Dengan hasil ini, fokus penanganan kini bergeser ke evaluasi sistem penyediaan makanan.

Menu MBG Jadi Sumber Dugaan Keracunan

Makanan yang dikonsumsi siswa berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menu yang disajikan saat itu meliputi beberapa lauk seperti telur puyuh, galantin, hingga kuah timlo. Sampel dari makanan tersebut kemudian diuji di laboratorium untuk memastikan penyebabnya. Dari situlah diketahui adanya kontaminasi bakteri dalam menu tersebut.

Para siswa diketahui mengonsumsi makanan itu pada Selasa, 28 April 2026. Setelah itu, gejala mulai muncul pada malam hingga keesokan harinya.

Bacillus Sp Bisa Bertahan Meski Sudah Dimasak

Bakteri Bacillus sp ternyata memiliki karakteristik yang cukup berbahaya. Salah satunya adalah kemampuannya bertahan meski makanan sudah dimasak. “Dugaan kami, bakteri ini sudah ada dan berkembang di dalam bahan makanan tersebut. Karena karakteristik Bacillus sp. ini memang dengan pemanasan tidak mudah mati,” tambahnya. Hal ini membuat kontaminasi bisa tetap terjadi meskipun proses memasak dilakukan.

Selain itu, bakteri ini juga bisa berkembang menjadi spora yang lebih tahan. Kondisi inilah yang diduga memicu keracunan massal tersebut.

Ratusan Siswa dan Guru Sempat Alami Gejala

Dampak dari kejadian ini cukup besar karena jumlah korban mencapai ratusan orang. Data menunjukkan ratusan siswa dan guru mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan tersebut. Gejala yang muncul antara lain mual, muntah, pusing, hingga diare. Beberapa di antaranya bahkan harus mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan.

Kasus ini sempat membuat panik orang tua dan pihak sekolah. Namun kondisi korban kini dilaporkan sudah membaik dan tidak ada yang dirawat.

Baca juga:

Evaluasi Ketat Sistem Penyimpanan dan Pengolahan

Dinas Kesehatan menekankan pentingnya standar dalam pengelolaan makanan. Mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses penyimpanan harus sesuai prosedur. Suhu penyimpanan yang tidak tepat bisa memicu pertumbuhan bakteri berbahaya. Bahkan disebutkan, bahan makanan seharusnya disimpan di bawah suhu tertentu agar tetap aman.

Selain itu, proses distribusi dan pengemasan juga menjadi perhatian penting. Evaluasi ini diharapkan bisa mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Langkah Pencegahan yang Harus Dilakukan

Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, diperlukan langkah-langkah pencegahan yang lebih ketat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Peningkatan kesadaran akan higiene dan sanitasi dalam pengolahan makanan.
  • Pelatihan bagi petugas penyedia makanan tentang cara menyimpan dan mengolah bahan makanan dengan benar.
  • Pemantauan rutin terhadap kualitas bahan makanan dan proses pengolahan.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kejadian keracunan massal dapat diminimalisir dan keamanan makanan tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *