Rowo Jombor, Waduk Bersejarah dari Zaman Kolonial yang Kini Jadi Wisata Favorit di Klaten

Wisata150 Views

KLATEN – Kabupaten Klaten dikenal sebagai kota seribu umbul berkat deretan mata air alaminya. Namun di sisi timur, tepatnya di Dukuh Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, tersimpan destinasi wisata air yang tak kalah menarik: Rowo Jombor. Waduk bersejarah seluas ratusan hektare ini kini berkembang menjadi tempat rekreasi favorit masyarakat, hanya sekitar 8 kilometer ke arah tenggara dari pusat Kota Klaten.

Sejarah Rowo Jombor tak bisa dilepaskan dari masa kolonial Belanda. Kawasan ini dulunya merupakan sebuah desa yang berada di dataran cekungan sehingga kerap dilanda banjir setiap musim hujan, hingga pemerintah kolonial mengalihfungsikannya menjadi waduk sebelum tahun 1940.

Fungsi awal waduk adalah menunjang irigasi perkebunan tebu milik pabrik gula Manisharjo di Pedan. Pada 1917, dibangun terowongan sepanjang satu kilometer yang menembus pegunungan kapur di sekitar rawa, lengkap dengan talang air di atas Kali Dengker. Dari pembangunan inilah lahir legenda bulus Rowo Jombor atau Jimbung, penunggu rawa yang melegenda di kalangan warga. Pembuatan saluran irigasi itu rampung pada 1921.

Baca juga:

Pada masa penjajahan Jepang tahun 1943–1944, Rowo Jombor dibangun tanggul di sekelilingnya menggunakan tenaga kerja paksa atau romusha. Pembangunan tanggul itu mengubah luas waduk dari semula sekitar 500 hektare menjadi sekitar 180 hektare. Usai kemerdekaan, pemerintah Klaten menetapkan Rowo Jombor sebagai tempat wisata pada 1956, lengkap dengan pembangunan tempat peristirahatan bagi pengunjung.

Hingga kini, Rowo Jombor masih menjalankan fungsi utamanya: menampung air dari sungai-sungai di sekitarnya, mengendalikan banjir, dan menjadi persediaan air irigasi sawah-sawah sekitarnya, terutama pada musim kemarau. Waduk yang membentang sepanjang 7,5 kilometer dengan kedalaman rata-rata 4,5 meter dan volume air sekitar 4 juta meter kubik ini juga menjadi pusat perikanan air tawar. Karamba-karamba apung menjadi rumah budidaya ikan nila, mujair, lele, hingga gurami.

Bagi wisatawan, panorama waduk dengan latar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu menjadi daya tarik utama, terutama saat matahari terbit maupun terbenam. Daya tarik ikoniknya adalah deretan warung apung yang dibuat dari bambu dan drum agar bisa mengambang. Untuk mencapai warung-warung itu, pengunjung menaiki perahu khusus yang ditarik petugas. Di sana tersaji beragam olahan ikan tawar seperti bawal, lele, gurami, dan nila dengan cara dibakar, digoreng, hingga dimasak asam manis.

Aktivitas lain yang bisa dinikmati antara lain berkeliling waduk menggunakan perahu wisata dengan tarif sekitar Rp10.000 per orang, naik speedboat seharga Rp50.000–Rp80.000 per kapal, hingga memancing. Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk alias gratis; hanya membayar parkir Rp2.000–Rp5.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil. Kawasan warung dan wisata umumnya beroperasi pukul 09.00–21.00 WIB.

Dengan segala pesonanya, Rowo Jombor layak masuk daftar tujuan wisata akhir pekan yang murah meriah namun sarat sejarah bagi warga Klaten maupun wisatawan dari luar daerah. Pengunjung diimbau menjaga kebersihan agar kelestarian waduk bersejarah ini tetap terjaga.

Sumber: traveloka.com; suarapena.com; Wikipedia bahasa Jawa (Rawa Jombor); goweswisata.blogspot.com; visitjawatengah.jatengprov.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *