KLATEN – Biasanya soto identik dengan kuah yang melimpah. Namun di Klaten ada soto yang justru disajikan nyaris tanpa kuah. Namanya soto garing, atau yang akrab disingkat warga dengan sebutan “toring”.
Soto garing menjadi salah satu kuliner khas Klaten yang kerap direkomendasikan untuk menu sarapan. Meski tanpa banyak kuah, rasanya tetap gurih.
Berawal dari Anak yang Tak Suka Kuah
Soto garing dikenal lewat Warung Soto Bu Yati yang dirintis Sudirman pada 1970-an. Sejumlah media menyebut soto ini pertama kali diperkenalkan pada 1973, sementara detikJateng mencatat warung tersebut berdiri pada 1974.
Idenya sederhana. Sudirman ingin memenuhi selera anaknya yang tidak suka makanan berkuah, lalu mencoba menyajikan soto dalam versi kering. Kreasi itu justru disukai pembeli dan bertahan hingga kini.
Baca juga:
- Opor Bebek Bu Yadi Polanharjo, Kuliner Legendaris Klaten Sejak 1985 yang Manisnya dari Gula Jawa
- Jelang Hari Batik Nasional, Menengok Desa Jarum Bayat: Sentra Batik Tulis Pewarna Alami dengan Puluhan IKM
- Festival Mbok Sri 2026 Digelar di Delanggu 25–27 September, Ada Kirab dan Wiwitan di Sawah
Isi dan Cara Penyajian
- Isi: nasi dengan kol, tauge, seledri, dan suwiran daging ayam.
- Bumbu: kuah hanya sedikit, berfungsi sebagai penyedap, ditambah kecap asin dan kecap manis.
- Pelengkap: aneka gorengan.
Lokasi dan Harga
Menurut detikJateng (November 2024), Warung Soto Bu Yati berada di Sabang, Kecamatan Delanggu, dekat Pasar Delanggu. Warung ini buka sejak pagi hingga sekitar pukul 13.30 WIB, dan kini dikelola generasi kedua. Saat itu, seporsi soto garing dijual Rp6.000, dengan gorengan mulai Rp1.000.
Harga dan jam buka dapat berubah sewaktu-waktu. Karena menjadi menu sarapan, sebaiknya datang pagi agar tidak kehabisan.
Sumber: detikJateng; Tribunsolo; Disway Solo.








