Tak jauh dari kemegahan Candi Prambanan, Kabupaten Klaten menyimpan satu lagi warisan megah Kerajaan Mataram Kuno: Candi Plaosan. Berlokasi di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kompleks percandian ini sering dijuluki “candi kembar” karena terbagi menjadi dua bagian utama — Plaosan Lor di utara dan Plaosan Kidul di selatan — yang letaknya berseberangan dan dipisahkan jalan raya serta hamparan sawah.
Jaraknya hanya sekitar satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Prambanan atau Candi Sewu, dan kurang lebih 15 kilometer dari pusat Kota Klaten dengan waktu tempuh sekitar 25 menit. Dibanding Prambanan, Ratu Boko, apalagi Borobudur, areal Candi Plaosan relatif lebih kecil sehingga bisa dinikmati dengan santai tanpa harus berjalan terlalu jauh.
Candi Plaosan adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-9 Masehi. Merujuk prasasti Çri Kahulunan yang berangka tahun 842 M, pembangunannya diprakarsai Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu bersama permaisurinya, Sri Kahulunan (Pramodhawardhani), putri Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. Karena itulah kompleks ini dipandang sebagai simbol nyata harmoni dan toleransi beragama pada masa Mataram Kuno — sebuah kisah cinta beda keyakinan yang justru melahirkan karya monumental.
Baca juga:
- Candi Sewu Ternyata di Klaten, Kompleks Candi Buddha Terbesar Kedua di Indonesia
- Umbul Brintik, Mata Air Terapi di Kebonarum Klaten yang Dirintis Jadi Wellness Tourism
- Rowo Jombor, Waduk Bersejarah dari Zaman Kolonial yang Kini Jadi Wisata Favorit di Klaten
Arsitektur Plaosan punya ciri khas tersendiri: dua candi induk “kembar” berlantai dua yang dikelilingi candi-candi perwara dan stupa perwara, serta parit berbentuk persegi panjang yang mengelilingi seluruh kompleks — sisa strukturnya masih bisa dilihat di sisi timur dan barat hingga kini. Keberadaan kemuncak stupa dan arca Buddha menandakan kompleks ini merupakan situs pemujaan Buddhis, sementara relief dewa-dewi wewangian dan cahaya di kedua candi induknya memperlihatkan pengaruh Hindu yang menyatu harmonis.
Potensi wisata Candi Plaosan kian dilirik. Desa Bugisan masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, dan saat visitasi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyebut kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani sebagai “storynomics” — daya tarik narasi yang bisa memperkuat pola perjalanan wisatawan dalam ekosistem Destinasi Super Prioritas Borobudur.
Bagi wisatawan, waktu terbaik berkunjung adalah pagi atau sore hari saat cahaya matahari menyorot relief batu andesit dengan indah. Pengelola mengimbau pengunjung menjaga kebersihan dan tidak memanjat struktur candi demi kelestarian warisan berusia lebih dari 1.100 tahun ini.
Sumber: Wikipedia (Candi Plaosan), Traveloka, NTD Indonesia, Indonesia Trip News.












