Gerabah Putaran Miring Melikan Klaten, Teknik Unik Warisan Budaya Takbenda yang Lahir demi Kesopanan Perempuan

Budaya, Sejarah123 Views

KLATEN – Di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, gerabah dibuat dengan cara yang tak lazim. Roda putarnya tidak datar, melainkan dimiringkan, dan perajin duduk menyamping sambil menggerakkan roda dengan kaki. Teknik bernama putaran miring ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2022.

Melikan berbatasan langsung dengan Kecamatan Bayat, sehingga produknya sering disebut “gerabah Bayat”. Sentra kerajinannya berada di sepanjang Jalan Sunan Pandanaran dan Dusun Pagerjurang, tempat rumah-rumah warga sekaligus menjadi bengkel produksi dan toko.

Cara kerja putaran miring

Alatnya sederhana, terbuat dari bambu, kayu, dan tali. Sebuah roda kayu berdiameter sekitar 50 sentimeter dipasang miring, lalu dihubungkan dengan tali ke sebilah bambu lentur yang tertancap di tanah. Perajin mengayunkan tali dengan kaki sehingga roda berputar, sementara kedua tangan membentuk tanah liat.

Menurut liputan The Jakarta Post, kemiringan roda sekitar 45 derajat dari lantai. Ukuran alat juga disesuaikan dengan postur tubuh perajinnya. Perajin yang terampil mampu membuat mangkuk kecil dalam hitungan detik, hingga ratusan buah dalam sehari.

Putaran miring biasanya dipakai untuk gerabah berukuran kecil dan halus, seperti mangkuk, gelas, poci, teko, cobek, dan celengan. Gerabah besar seperti gentong dan pot dibuat dengan putaran tegak atau datar.

Lahir untuk menjaga kesopanan perempuan

Kisah di balik teknik ini erat dengan perempuan. Dulu, sebagian besar perajin gerabah Melikan adalah perempuan yang mengenakan kebaya dan kain jarik. Dengan roda putar biasa, mereka harus duduk mengangkang. Roda yang dimiringkan memungkinkan mereka duduk menyamping dengan kaki berselonjor, sehingga tetap sopan dan leluasa bekerja.

Tradisi lisan setempat mengaitkan gagasan ini dengan Sunan Pandanaran (Sunan Bayat), tokoh penyebar Islam di Bayat. Hingga kini, menurut perajin setempat, sekitar 80 persen perajin gerabah di Melikan adalah perempuan, sementara kaum laki-laki banyak membantu tahap penyelesaian dan pembakaran.

Baca juga:

Berapa tua tradisi ini?

Sumber tertulis tentang awal mula gerabah Melikan tidak banyak. Para perajin meyakini kerajinan ini sudah ada sejak abad ke-15, saat Sunan Pandanaran berdakwah di Bayat. Keyakinan itu dikaitkan dengan Gentong Sinogo, tempayan untuk berwudu di kompleks makam Sunan Pandanaran. Sementara itu, pemerintah desa menyebut teknik putaran miring sudah diwariskan turun-temurun sekitar 300 tahun.

Keunikan teknik ini menarik perhatian peneliti asing. Chitaru Kawasaki, guru besar seni dari Kyoto Seika University, Jepang, datang meneliti putaran miring di Melikan pada awal 1990-an dan pernah mengajak perajin setempat berdemonstrasi di Jepang.

Penetapan WBTb dan tantangan

Kepala Desa Melikan, Sukanta, menyebut ada sekitar 225 perajin gerabah di desanya. Putaran miring diajukan sebagai WBTb karena dinilai langka dan jarang ditemukan di daerah lain, lalu ditetapkan Kemendikbudristek pada 2022.

Tantangannya, gerabah kini bersaing dengan peralatan rumah tangga dari plastik dan logam. Karena itu, perajin Melikan juga membuat gerabah hias dan suvenir, serta membuka rumah produksi untuk kunjungan wisata dan belajar membuat gerabah.

Bagi yang ingin berkunjung, sentra gerabah Melikan bisa dicapai lewat jalur Wedi–Bayat menuju kompleks Makam Sunan Pandanaran. Kunjungan sekaligus bisa digabung dengan wisata religi dan sentra batik di Bayat.

Sumber: detikJateng (19/5/2024 dan 11/9/2025); The Jakarta Post (13/7/2017); Pemkab Klaten via Mojok.co (6/9/2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *