Makam Sunan Pandanaran di Bukit Jabalkat Bayat, Wisata Religi Klaten dengan 300 Anak Tangga

Berita94 Views

KLATEN – Di puncak Bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, terbaring salah satu tokoh penting penyebaran Islam di Jawa Tengah: Sunan Pandanaran, yang juga dikenal sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Kompleks makam seluas sekitar setengah hektare ini menjadi salah satu tujuan wisata religi terbesar di Klaten dan hingga kini ramai diziarahi peziarah dari berbagai daerah.

Sunan Pandanaran bernama asli Ki Ageng Pandanaran (Pangeran Mangkubumi), putra Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Menurut babad dan cerita rakyat, ia meninggalkan jabatan duniawinya sebagai Adipati Semarang setelah mendapat wejangan dari gurunya, Sunan Kalijaga, lalu menyiarkan Islam di daerah Bayat pada abad ke-16. Cara dakwahnya yang khas disebut patembayatan — menyebarkan ajaran melalui musyawarah dan keteladanan, bukan paksaan.

Kompleks makam berada di ketinggian sekitar 860 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan kini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Klaten. Arsitekturnya unik dan mencerminkan akulturasi budaya masa penyebaran Islam awal: pengunjung disambut gapura bentar bercorak Hindu sebelum memasuki area makam yang bernuansa Islam.

Baca juga:

Untuk mencapai makam, peziarah harus menapaki sekitar 300 anak tangga — sehingga dibutuhkan stamina yang cukup kuat. Namun tak perlu khawatir: bagi peziarah lanjut usia atau yang kondisi fisiknya kurang, tersedia jasa ojek dari depan loket dengan tarif hanya sekitar Rp10.000 sekali jalan. Retribusi masuk kawasan pun sangat terjangkau, cukup Rp2.000.

Setiap harinya, ribuan peziarah datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan Sumatera hingga Kalimantan. Puncak kedatangan terjadi pada bulan Suro dan Ruwah dalam penanggalan Jawa: dari biasanya 1.000–2.000 peziarah, jumlahnya bisa melonjak hingga 3.000 orang dalam sehari.

Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari, saat udara masih sejuk dan panorama dari ketinggian tampak jelas. Pengelola mengimbau peziarah menjaga kebersihan, berpakaian sopan, dan menghormati kesakralan area makam. Selain berziarah, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan hamparan wilayah Klaten dari puncak bukit — perpaduan wisata religi dan alam yang sulit dilupakan.

Sumber: solopos.espos.id; jurnal “Islamisasi Sunan Pandanaran di Bayat, Klaten, Jawa Tengah Abad XV” (journal.student.uny.ac.id); Omah Katong – Sejarah Sunan Pandanaran (YouTube).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *